π§βπ€ Gunung Salak Via Cimelati
KONTAKHP BASECAMP PENDAKIAN GUNUNG JAWA BARAT. GUNUNG SALAK : @halimunsalak_np. Jalur Pasir Reungit : @volunteermtsalak / 0838111965617 / 083818134174. Jalur Cidahu : @gnsalak2211 / 085795871205. Jalur Cimelati : Jalur Ajisaka : GUNUNG TAMPOMAS : @exploretampomas 085647882004. Jalur Narimbang : @gunungtampomas /
β subang taman safari β lido- megamendung β gunung mas ββ cimelati βleuwiliangβ gn salak β tapos β ciawi - curug nangka = rp 2.500.000 β’ cipanas β cibodas β ciloto β salabintana β cimacan - bandung β dago β maribaya β ciater- tangkuban prahu rp 2.800 000
Gunungsalak memiliki ketinggian 2.211 mdpl dimana letaknya berada di administrasi bogor dan sukabumi. βsarana dan prasana (sarpras) serta fasilitas pos pendakian menuju puncak salak 1, jalur cimelati sudah lengkap. Adapun via cimelati jalurnya (saat artikel ini ditulis) masih ilegal walaupun konon jarak tempuhnya lebih singkat.
Ternyatadi beberapa area di Gunung Salak, terdapat penguasa gaib yang harus diperhatikan oleh para pendaki. Di bagian kaki gunung Salak terdapat Ki Baping Mayit. Sementara di area puncak 4 terdapat nenek-nenek tua yang muncul pada jam 09:00 hingga 12:00. Di area Puncak 3 terdapat Eyang Sarean yang merupakan keturunan Cirebon.
JalurPendakian Gunung Salak via Cidahu berada di Kecamatan Cidahu Kabupaten Sukabumi tepatnya di dekat area Wana Wisata Cangkuang yang merupakan suatu area perkemahan yang sangat asri dengan pemandangan air terjun yang sangat indah. Untuk mendaki Gunung Salak sendiri terdapat beberapa jalur diantaranya.
Jalurpendakian Selabintana kurang diminati oleh para pendaki. Banyak hal yang menjadi alasan yakni: 1.membutuhkan waktu yang lebih lama baik dalam pendakian maupun dalam perjalanan di kendaraan umum, umum yang susah dan lebih jauh, 3.jalurnya lebih berat, berlumpur dan banyak pacet. Setelah melakukan booking beberapa hari
Tapiakhirnya, gua dikasih kesempatan sama yang punya hidup, buat menyambangi Gunung Salak dan merasakan secara langsung apa yang sebenarnya ada di Gunung Salak. Gua jadi bisa ngebagi cerita gua tentang gunung Salak. So, langsung aja, inilah 7 Hal Yang Harus Kamu Tahu Tentang Gunung Salak versi Jalan Pendaki ala Acen: 1.
HubungiKami via WhatsApp. Hubungi Kami +62 817 1818 27. Email [email protected] MENU. HOME. Gunung Mas β Curug Nangka β Rancamaya β Cinangneng β Cimelati β Kanzebo β Leuwiliang β Gn. Salak β Tapos β Ciawi -Karawang β Highland : 1 hari: 1.700.000: Cipanas β Cibodas β Ciloto β Cimacan β Jaitluhur β Purawakarta
EstimasiPendakian Gunung Sindoro via Kleudung, Tamanggung, Jawa Tengah. di tulis dalam Ringkas dan Jelas serta mengedepankan keindahan dan informasi jalur. Sweeper Backpacker Estimasi Pendakian Gunung Salak via Cimelati. Catatan, Informasi dan Tips (Terbaru 2022) Transportasi Biaya ke Gunung Gede Pangrango dari Jakarta
InformasiSewa Bus Pariwisata Jakarta Sesuai dengan kebutuhan jumlah kursi harga murah Fasilitas Lengkap Aman Nyaman Booking Mudah Siap dalam dan luar kota.
Gunung2000 Mdpl rasa 3000 Mdpl. Sepertinya, perumpaan ini sangat cocok untuk disematkan pada Gunung Salak. Sebagai salah satu gunung berapi di tanah pasundan, Gunung Salak memiliki tiga puncak gunung, yaitu Puncak Salak I atau Puncak Manik dengan ketinggian 2211 Mdpl, Puncak Salak II berketinggian 2180 Mdpl, dan Puncak Sumbul setinggi 1926 Mdpl.
1 Jalur Pendakian Gunung Salak Via Cimelati Dikenal sebagai jalur yang sadis, namun para pendaki mengidolakannya. Sebab, jalur satu merupakan jalur paling pendek di antara jalur lainnya dan pemandangan alam di sepanjang jalur Cimelati sangat indah, terlebih kamu dapat menemukan 3 buah air terjun bila melakukan pendakian di musim hujan.
Opxwoe. Jalur pendakian gunung salak via cimelati memang tidak setenar cidahu namun kamu juga bisa melakukan pendakian lewat sini dikarenakan jalur pendakian gunung salak memiliki banyak jalur maka disalah jika kamu mencoba jalur cimelati. Gunung salak memiliki ketinggian Mdpl dimana letaknya berada di administrasi Bogor dan Sukabumi. Baca Juga 10 Misteri dan Hal Janggal di Gunung Salak Untuk melakukan pendakian gunung salak kamu harus menuju titik awal pendakian dimana disini kita bahas Cimelati jadi kamu harus mengarahkan kendaraan kamu menuju bascame cimelati, bagaimana transportasi menuju bascame cilemati dari Jakarta, Bogor bahkan Bandung? tenang kita informasikan sedikit yang penting sampai π . Untuk kamu yang naik bus kamu harus naik bus jurusan Sukabumi yang tinggal di Jakarta ia nanti sama abangnya bilan turun di pertigaan Cimelati dari sini kamu bisa ojek, untuk kamu yang membawa kendaraan pribadi tentunya kamu harus arahkan kendaraan kamu menuju Bogor kemudian ambil arah SMI dengan patokan pasar Cicurug kemudian nanti ketemu pertigaan Cimelati lurus saja nanti juga ketemu pos awal pendakian gunung salak. Untuk yang ngeteng naik kereta bisa yaitu dengan turun di kemudian dilanjutkan naik angkot tujuan Sukasari dilanjut lagi menuju Cicurug turun di pertigaan Cimelati. Setelah kamu sampai di bascame pendakian gunung salak langkah selanjutnya adalah mengurus yang namanya Simaksi pendakian gunung salak dimana untuk tiket masuk kawasan halimun salak kamu dikenakan biaya sebesar 10k baru kamu melakukan pendakian ke puncak gunung salak, dimana gunung salak memiliki puncak yang cukup banyak namun yang tenar hanya ada dua yaitu puncak salak 1 dan II. Baca Juga Curug Luhur, Keindahan Alam di Kaki Gunung Salak Berikut estimasi waktu pendakian gunung salak No Pos Pendakian Waktu Pendakian Via Cimelati 1 Pos 1- 2 50 menit 2 Pos 2 β 3 120 menit 3 Pos 3 β 4 90 menit 4 Pos 4 β 5 120 menit 5 Pos 5 -6 60 menit 6 Pos 6 -Puncak 120 menit Dari tabel diatas didapatkan perkiraan waktu yang didapat sekitar 8 jam untuk menggapai puncak salak. Memang salah tidak terlalu tinggi namun jangan anggap remeh gunung satu ini mengingat banyak kejadian aneh serta misteri gunung salak yang sampai saat ini masih dianggap sakral bagi penduduk kaki gunung salak jaga tingkah, jaga ucap dan etika saat mendaki gunung salak.
Bangunan Pos Jaga dan Tiket Jalur Pendakian Cimelati, TN Gunung Halimun Salak. Foto Balai TNGHSβSarana dan prasana sarpras serta fasilitas pos pendakian menuju puncak Salak 1, jalur Cimelati sudah lengkap. Selain pos jaga dan tiket, juga sudah tersedia bangunan warung, shelter atau gazebo, mushola, toilet dan area camp,β cerita Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak TNGHS Ahmad Munawir melalui sambungan ponsel, pada Rabu 10/6/2020.Apa yang diceritakan Munawir tersebut, berkaitan dengan selesainya pembangunan sarpras dan fasilitas pos pendakian jalur Cimelati yang masuk wilayah kerja Resort Kawah Ratu TN Gunung Halimun Salak di Kampung Citaman, Desa Kutajaya, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa jalur pendakian Cimelati merupakan jalur yang biasa digunakan penduduk sekitar, untuk menziarahi petilasan di puncak Salak 1 yang berada pada ketinggian meter di atas permukaan laut mdpl β masyarakat setempak menyebutnya puncak jaraknya yang relatif lebih pendek dan waktu tempuh lebih singkat 5-7 jam serta medannya yang tidak terlalu curam dibandingkan melalui jalur pendakian Cidahu/Javana Spa dan Pasir Reungit, sehingga, kerap dijadikan jalur alternatif bagi pengunjung yang ingin mendaki menuju puncak Salak 1. Tetapi, sebelumnya, jalur pendakian Cimelati merupakan jalur ilegal. Jadi, bagi kamu yang mendaki melalui jalur tersebut pun disebut sebagai pendaki ilegal. Hal inilah yang kerap menyulitkan petugas taman nasional, saat terjadi kecelakaan. Karena, pengunjung yang mendaki, masuk secara kucing-kucingan atau sembunyi-sembunyi. Sehingga, otomatis data-datanya tidak Salak - TN Gunung Halimun Salak. Foto Harley SasthaβRencana menjadikan Cimelati sebagai jalur pendakian resmi, salah satu alasannya, karena dari dulu jalur ini kan sudah dipakai. Walaupun ada kerjasama dengan muspika untuk mengawasinya, kami tetap belum bisa mengontrol sepenuhnya. Lalu, setelah berbincang-bincang dengan kawan-kawan volunteer, SAR dan pihak lain yang ada disana, akhirnya kita memutuskan untuk dibuka saja secara resmi. Karenanya, sejak tahun lalu, mulalah kami bangun sarpras dan fasilitasnya. Saat ini pembangunannya sudah selesai. Termasuk aliran listriknya,β cerita sendiri, sejak awal 1990-an sudah beberapa kali mendaki melalui jalur Cimelati. Jauh sebelum kawasan Gunung Salak menjadi satu kesatuan dengan kawasan Gunung Halimun pada 2003, yang kemudian menjadi kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Halimun mendaki melalui jalur Cimelati, hutannya masih sangat rimbun. Sehingga, suasananya terasa teduh dan nyaman. Bahkan, beberapa kawan mengatakan, mendaki melalui jalur Cimelati, seperti berjalan di taman dengan hutan lebatnya yang cantik. Di sepanjang jalur pendakian, khususnya setelah kamu sudah masuk jauh ke dalam hutan, terkadang, jika beruntung, beberapa jenis satwa seperti lutung, monyet ekor panjang, surili dan owa jawa, dapat kamu jumpai. Termasuk Masih Menunggu Dibuka Secara ResmiMenurut Munawir, walaupun sarpras dan fasilitas pos pendakian jalur Cimelati sudah jadi, belum bisa langsung digunakan. Karena, masih menunggu untuk diresmikan dan masih ada beberapa tahap mengenai penataan jalur pendakian yang tengah dipersiapkan serta komunikasi intens dengan berbagai pihak di sekitarnya. Mulai dari masyarakat, perangkat desa serta pihak keamanan dan lainnya. Lagi pula, saat ini semua aktivitas kunjungan wisata juga masih ditutup sejak pertengahan Maret lalu, guna mencegah penyebaran pandemi COVID-19 yang masih satu sarpras yang tersedia tidak jauh dari pos jaga dan tiket jalur pendakian Cimelati, TN Gunung Halimun Salak. Foto Balai TNGHS Menjadikan jalur pendakian Cimelati sebagai jalur resmi, merupakan jawaban Balai TNGHS, setelah mendengarkan masukan berbagai pihak. Jadi, jalur pendakian Cimelati, dapat dijadikan sebagai jalur alternatif yang aman dan nyaman, bagi mereka yang baru mulai atau pertaman kali mendaki dan ingin menggapai puncak Salak 1.βDengan begitu, kalau ada yang ingin mendaki menuju puncak Salak 1, tetapi tidak sanggung kalau melalui jalur pendakian Cidahu, maka ada alternatif atau pilihan yang juga resmi, jalur pendakian Cimelati,β kata Munawir, melanjutkan pembukaan secara resmi jalur pendakian Cimelati, Balai TNGHS berpatokan kepada kesiapan masyarakat setempat.βKami akan duduk bersama, mengomunikasikan berbagai hal yang terkait penyelenggarakan pendakian melalui jalur Cimelati. Dengan perangkat desa dan badan usaha milik desa serta masyarakat. Kami akan atur, misalnya, kendaraan pengunjung atau pengantar nanti hanya boleh sampai sebatas mana, termasuk parkirannya. Karena kan ada tanah pemilik villa yang juga akan dilalui. Juga mengakomodir peranan pemuda setempat. Dan, siapa nanti yang akan memegang izin jasa di sekitar sana. Hal ini untuk mencegah munculnya praktik premanisme. Karenanya, bersama-sama kita sepakati dulu semuanya. ,β tambah dengan resminya jalur pendakian Cimelati, Balai TNGHS, ingin masyarakat mendapat manfaatnya. Baik secara ekonomi maupun lingkungan. Adanya pemberdayaan bagi penduduk sekitar sat sarpras disekitar pos jaga dan tiket jalur pendakian Cimelati, TN Gunung Halimun Salak. Foto Balai TNGHSSebelum mengakhiri pembicaraan, Munawir berpesan, Balai TNGHS sebagai pengelola, jalur pendakian Cimelati sengaja disiapkan untuk para pendaki yang ingin mendaki menuju puncak Salak 1, tetapi memiliki beberapa keterbatasan, bisa menggunakan jalur ini.βSaya harap, teman-teman pendaki dapat mengikuti aturan yang berlaku nantinya. Jangan merusak properti dan sarpras yang ada. Tidak melakukan vandalisme, mengganggu tumbuh-tumbuhan dan bawa kembali turun sampah, lalu buang pada tempat yang semestinya,β tutup untuk sobat kumparan dan pendaki, hingga saat ini, jalur pendakian resmi menuju puncak Salak 1 dalam kawasan TN Gunung Halimun Salak hanya ada dua Jalur Javana Spa/Cangkuang, Cidahu β Simpang Kawah Ratu β Puncak Salak 1 dan Jalur Pasir Reungit, Gunung Bunder β Kawah Ratu β Simpang Kawah/Puncak Salak 1 β Puncak Salak nanti jalur pendaki Cimelati sudah benar-benar diresmikan, otomatis jalur pendakian di TN Gunung Halimun Salak, akan menjadi tiga jalur resmi. Sedangkan, diluar jalur-jalur tersebut merupakan jalur ilegal. Di mana jika kamu menggunakannya, artinya kamu telah menerabas batas-batas pelestarian alam yang telah ditetapkan. Tidak ingin kan kamu disebut sebagai pendaki ilegal?
Waktu libur sudah selesai. Libur nulis maksudnya. Libur. Yap, "libur nulis", maksudnya. Ga berasa udah 1 tahun gue ga pernah corat-coret lagi, bukan karena selama satu tahun itu ga ada cerita yang pengen gue share, tapi emang ga pernah sempetin waktu buat nulis aja sih, alias mageerrr wkwk mohon maap yak. Kalo ditanya soal cerita-cerita apa aja, itu tuh ada banyak banget yang pengen gue tulis di sini, tapi yaa itu mageernya looh wkwk. Andai aja ada autotyping hahaha π
. Oke, efek setahun ga corat-coret, akhirnya gatel juga jemari ini, coba gue garuk, maksudnya mari gue lanjutkan tulis cerita dari cerita dan pengalaman yang paling terbaru gue lakukan, sebut aja "Pendakian Gunung Salak 1 Hari Tektok via Jalur Cimelati". Mudah-mudahan seru. Gunung Salak Pendakian kali ini adalah Gunung Salak. Gue ulang lagi, Gunung Salak. Masih jelas ga? oke, gue ulang lagi, Gunung Salak! Pasti kesan pertama yang ada di benak kalian tentang gunung ini adalah gunung yang kecil, pendek, ga berat, buat pemula, ya pokoknya cetek lah. Wew, wew, wew, kalo kalian mengiranya seperti itu, selamat kalian salah besar! Termasuk gue, ketika pertama kalipun menilainya demikian. Hemm. "Emangnya kaya gimana sih Si Salak ini?", "Sebegitunya ya?", "Masa sih kaya begitu?". Ga percaya? Yaudah, coba aja mampir ke sana dulu. Kenalin Dulu Gunung Salak merupakan kompleks gunung berapi yang terletak di selatan Jakarta, di Pulau Jawa. Kawasan rangkaian gunung ini termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pengelolaan kawasan hutannya semula berada di bawah Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan KPH Bogor, tetapi sejak 2003 menjadi wilayah perluasan Taman Nasional Gunung Halimun, dan dikelola sebagai Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Gunung Salak berusia relatif tua sehingga memiliki beberapa puncak. Geoposisi puncak tertinggi gunung ini ialah 6Β°43' LS dan 106Β°44' BT dan dinamakan Puncak Salak I dengan ketinggian puncak m dari permukaan laut dpl.. Banyak yang mengira asal nama "Salak" adalah dari tanaman salak, akan tetapi sesungguhnya berasal dari kata bahasa Sanskerta, salaka yang berarti "perak". Gunung Salak merupakan gunung api strato tipe A. Puncak tertinggi Puncak Salak I menurut Hartmann 1938 adalah puncak berusia tertua. Puncak Salak II berketinggian m dpl. dianggap yang tertua kedua. Selanjutnya muncul Puncak Sumbul dengan ketinggian m dpl. Terdapat sejumlah kawah aktif yang tidak berasa di puncak. Kawah terbesar, Kawah Ratu, merupakan kawah termuda. Kawah Cikuluwung Putri dan Kawah Hirup merupakan bagian dari sistem Kawah Ratu. Semenjak tahun 1600-an tercatat terjadi beberapa kali letusan, di antaranya rangkaian letusan antara 1668-1699, 1780, 1902-1903, dan 1935. Letusan terakhir terjadi pada tahun 1938, berupa erupsi freatik yang terjadi di Kawah Cikuluwung Putri. Secara morfologi, Gunung Salak memiliki banyak jurang curam dan dalam. Karena seluruh tubuh gunung sampai puncak tertutup hutan lebat, kontur gunung ini tidak mudah terlihat. Hal ini sering kali menipu pendaki maupun penerbang yang melewati kawasan pegunungan ini. Sumber Wikipedia. Akhirnya Jadi Ke Salak Setiap pagi yang cerah datang, setiap saat itu juga gue melihat ke arah selatan langit dari kediaman rumah gue Depok, gunung ini sangat terpampang jelas bak lukisan yang gagah. Dekat banget yah? Mungkin karena lokasi gunung ini yang ga begitu jauh dari tempat tinggal gue sampe kelihatan jelas dari depan rumah, tapi gue juga bingung, kenapa ga pernah kesampean mendaki kesana, padahal deket, mungkin belum rejeki, tapi ga juga sih. Bukannya rejeki itu dijemput yah? Iya, dijemput, bukan nunggu sampe kapan pasti datangnya. Sejak saat itu gue berinisiatif untuk mulai menjemputnya! C'mon! Tujuh hari sebelum pendakian Pendakian Gunung Salak 1 Hari Tektok via Jalur Cimelati, rencana ini sudah gue buat sedemikian matang, walaupun niat sebenarnya sih udah terbesit sekitar satu tahun yang lalu, tapi realisasinya baru sekarang-sekarang. Hemm, ga apa-apa, gunung kan ga ada masa kedaluwarsa ini. Bingung akan melakukan pendakian 2 hari 1 malam camping atau 1 hari trekking alias tektok, setelah melakukan pertimbangan dan perundingan, gue tegaskan lebih memilih untuk tektok, kenapa? Ada beberapa alasan dan pertimbangan gue untuk tidak memilih pendakian 2 hari 1 malam, yakni 1. Terkenal dengan track yang cukup berat, jika kami mendaki 2 hari 1 malam, maka kami harus membawa keril yang besar dan berat, itu akan sangat menyulitkan dan melelahkan. Kami pilih tidak. 2. Kental dengan mistisnya. Itulah alasan kami kenapa lebih memilih tektok, karena ingin menghindari bermalam di gunung ini wkwk. Bukan karena kami takut, cuma menghindari aja kok hihi. Pendakian tektok kali ini, gue mengajak teman gue yang bernama "Yahya", ini adalah pendakian kedua kami, setelah sebelumnya kami pernah mendaki bersama ke Gunung Gede-Pangrango waktu lalu. Nanti gue ceritain juga! Ga kalah seru juga! Ini Harinya Hari minggu tanggal 16 Desember 2018 pukul WIB dini hari, Yahya menghubungi gue lewat pesan whatsapp, "Dam, dimana? berangkat jam berapa kita?", "Jalan jam 4 subuh aja", jawab gue. Berhubung kami akan melakukan pendakian tektok, jadi kami berinisiatif berangkat dan mulai pendakian seawal mungkin. Pukul WIB, kami berangkat menuju Desa Cimelati menggunakan mobil yang gue bawa dari Depok. Cimelati, iya, jalur yang akan mengantarkan gue dan Yahya menuju Puncak Manik I. Mudah-mudahan ga sesadis Ibu Tiri yah wkwkwk. Pukul WIB, kami sudah tiba di Desa Cimelati. Kami sarapan bubur ayam terlebih dahulu pada saat itu. Maklum, tektok itu perlu tenaga yang lumayan banyak, perutpun harus diisi dulu, biar ga lemes selama pendakian. Inilah kalo pengen mendaki tektok, selain harus menyiapkan plan yang matang, fisikpun menjadi prioritas utama yang harus disiapkan, karena pendakian tektok itu akan membuat fisik bekerja secara nonstop selama 1 hari penuh. Hemm, oke kalo begitu. Assalamualaikum Salak Tepat pukul WIB, langkah kaki kami mulai meninggalkan rumah Abah, rumah yang sebagai tempat parkir kendaraan gue selama pendakian, sekaligus untuk mengurus perizinan pendakian juga. Bismillah. Semoga mudah, aamiin. Rumah Abah - Pos 1 - WIB Jalur dari rumah Abah menuju Pos 1 terbilang masih landai, tapi sesekali akan menemukan jalur menanjak yang lumayan panjang, walaupun ga begitu terjal, tapi cukup bikin engap haha. Jalur yang kami lalui di awal masih berupa perkebunan-perkebunan warga. Setelah melakukan trekking sekitar 10-15 menit, jalur sudah mengarahkan kita pada kawasan hutan yang lumayan agak tertutup. Selama menyusuri jalur menuju Pos 1, kalian akan ditemukan dengan persimpangan ke kiri dan ke kanan, pilihlah jalur yang ke kiri dan lanjutkan dengan mengikuti jalur yang ada. Jalur itu yang nantinya akan mengantarkan ke Pos 1. Jalur dari rumah Abah menuju Pos 1 terbilang lumayan panjang, gue kira cuma sekitar 30-45 menit aja, nyatanya hampir lebih dari 1 jam. Awalnya kami agak ragu, apakah ini jalur yang benar, kami sedikit khawatir, karena ga ada tanda yang menginformasikan ini adalah benar jalur menuju Pos 1. Kamipun sabar dan terus bergerak, Alhamdulillah, ternyata kami berada di jalur yang benar, dan Pos 1 pun dapat kami temui. Napas dulu sebentar hehe. Pos 1 - Pos 2 - WIB Tidak seperti jalur dari rumah Abah menuju Pos 1, jalur dari Pos 1 menuju Pos 2 ga begitu panjang, tapi tetap aja kalian akan menemui jalur yang lumayan menanjak, kalian pasti kuat kok! Kaya temen gue si Yahya ini, yang tiba-tiba menjadi slow motion pergerakannya haha. Tepat pukul WIB, Pos kedua dapat kami pijakkan, yap, ini Pos 2, pos dengan lapak yang lumayan cukup luas, kira-kira bisa menampung sekitar 4-5 tenda. Alhamdulillah bisa meluruskan kaki sedikit, sambil mendokumentasikannya. Hehehe. Ternyata, ketika kami tiba di sana, sudah ada 1 kelompok yang sedang asik masak membuat makanan. Sepertinya mereka sudah bermalam di sana, tegur sapa pun terjadi. Itu spontan dan harus. Pos 2 - Pos 3 - WIB Tidak ingin berlama-lama di Pos 2, kamipun melanjutkan pendakian ke pos berikutnya, dengan harapan akan dimanjakan dengan jalur yang landai dan penuh bonus hahaha. Ketika kami melakukan trekking selama 20 menit, tiba-tiba kami dihadapkan pada persimpangan yang merupakan sebuah lahan yang lumayan terbuka, serta terdapat sumber air yang berasal dari sebuah kucuran. Ternyata ini Pos 3! Wow, sesingkat ini menuju Pos 3. Yahya pun langsung me-refill air minumnya. Nikmat. Pos 3 - Pos 4 - WIB Sadar jalur menuju Pos 4 adalah yang terberat menurut tulisan yang sudah saya baca-baca, kamipun benar-benar menyiapkan tenaga ekstra, dengan mengisi perut kami terlebih dahulu. Jalur menuju Pos 4 ini, kalo boleh gue bilang, termasuk salah satu kategori jalur yang paling berat selama gue mendaki. Beberapa kali otot paha gue mengalami kram, sehingga menyulitkan gue ketika menemui track yang sangat curam, bantuan dari kedua tanganpun mau ga mau harus dilakukan, untuk memudahkan dalam menopang beban. Inilah durasi yang paling lama selama pendakian, sekitar hampir 2 jam, kami bergelut dengan kerasanya medan yang disuguhkan oleh "Si Kecil Cabe Rawit" ini. Track yang sangat padat dan tertutup. Akhirnya gue mengenal lebih dekat dengan Si Salak ini. Suara-suara teriakan dari pendaki lain mulai terdengar, sepertinya Pos 4 sudah tidak jauh lagi. Yap, Alhamdulillah, pos yang gue impikan muncul juga! Wow! Pos ini hanya bisa menampung sekitar 2-3 tenda aja, lahannya ga begitu luas seperti Pos 2. Ga mau terburu-buru untuk melanjutkan pendakian menuju pos berikutnya Pos 5, gue dan Yahya memutuskan untuk beristirahat sebentar, kalo bisa sih, yang lama. Maklum, efek otot-otot paha yang kram, ditambah laper, dan mata agak sepet, karena kami belum tidur sejak tadi malam, alias begadang! sakit jiwa emang. Lalu, matapun tiba-tiba mulai sayup, dan kami pules. Pos 4 - Pos 5 - WIB Tiba-tiba, kok badan terasa dingin dan menggigil, tidur kami jadi ga pules lagi, ternyata kabut sudah mulai tebal. Dengan kondisi mata agak sepet dan badan yang menggigil, kami mulai melanjutkan pendakian menuju pos berikutnya, Pos 5. Setelah tidur yang lumayan agak lama, membuat fisik kami sedikit ter-recovery. Di tengah-tengah jalur sebelum tiba di Pos 5, tiba-tiba hujan turun, tapi kami ga panik, karena kami memang udah menyiapkan pendakian ini dalam segala kondisi, salah satunya kondisi pada saat hujan seperti ini. Mantel hujan plastik pun mulai kami kenakan. Brrrr... lumayan seger cuacanya! Kurang lebih sekitar 20 menit lama pendakian, kami tiba di ruang terbuka yang ga begitu luas, itu adalah Pos 5. Alhamdulillah bisa napas sedikit wkwk. Pos 5 - Pos 6 - WIB Singkat beristirahat, kami melanjutkan menuju Pos 6, lumayan bersemangat, karena perjalanan menuju puncak semakin dekat. Perlu diingat, jalur dari Pos 4 sampai dengan Pos 6, bisa dikatakan tidak terdapat jalur bonusnya, jalur ini konsisten menanjak curam yang ga habis-habis! Jadi, siapkan fisik yang prima, guys! Hampir mirip dengan Pos 5, ternyata Pos 6 memang tidak begitu jauh berbeda, hanya sebuah ruang terbuka yang tidak begitu luas, dan memang benar ini adalah Pos 6! Alhamdulillah tiba. Pos 6 - Puncak Manik Salak I - WIB Sejak kami tiba di Pos 6, semangat dan motivasi kami semakin terbakar, walau pada saat itu kondisinya lembab dan hujan, bukan karena apa-apa, tidak lain karena puncak yang kami niatkan sudah semakin dekat, tinggal 1 langkah lagi! Kami pun terus bergerak, walau hampir seluruh tenaga kami semakin habis. Kami juga semakin termotivasi ketika bertemu dengan pendaki lain yang baru saja turun dari puncak, dan mereka menyapa, "Ayo, Bang, sedikit lagi puncaknya!", walau sebenarnya bisa saja puncaknya itu masih jauh. Ternyata kami salah, puncak itu memang sudah terlihat! kami semakin bergegas, dan Alhamdulillah kami tiba di puncak! yeay! Puncak Manik Salak I - Rumah Abah - WIB Sudah puas berleha-leha dan meluruskan kaki yang lumayan pegal selama pendakian naik, sekitar pukul WIB kami mulai meninggalkan puncak dan kembali turun ke bawah Rumah Abah. Kami sengaja turun lebih dini, karena tujuan kami sejak awal adalah untuk menghindari terkena waktu malam di jalur. Jadi, kami harus bergegas dan tidak membuang-buang waktu. Perjalanan turun pun terasa sangat berat karena fisik yang sudah mulai habis. Dengan pergerakan yang sabar dan terus, sehingga semakin dekat mengantarkan kami pada kediaman rumah Abah. Alhamdulillah, pendakian ini dapat selesai tepat waktu, sesuai dengan yang direncankan oleh kami. Pulang Ke Rumah Setelah bersih-bersih sambil beristirahat sejenak di rumah Abah, sekitar pukul WIB kami kembali pulang ke Depok dengan diiringi kabut dan gerimis sedang pada malam itu, tapi kami turut senang, rencana yang gue rencanakan sejak lama akhirnya terjadi, dan yang terpenting adalah semuanya berjalan lancar dan tidak ditemukan sedikit hambatan. Terima kasih Salak. Terima kasih, kamu memang "Si Kecil Cabe Rawit". Berapa biaya yang dikeluarkan ?
gunung salak via cimelati